<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Odecya</title>
	<atom:link href="http://www.odecya.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.odecya.com</link>
	<description>Ode &#124; Puisi &#124; Cerpen &#124; Prosa &#124; Lirik &#124; Sajak &#124; Dsb</description>
	<pubDate>Wed, 19 Nov 2008 17:58:35 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/</generator>
	<language>en</language>
	<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Cinta Abadi</title>
		<link>http://www.odecya.com/puisi/cinta-abadi.htm</link>
		<comments>http://www.odecya.com/puisi/cinta-abadi.htm#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Nov 2008 17:58:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>KenzT</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<category><![CDATA[cinta abadi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.odecya.com/?p=78</guid>
		<description><![CDATA[Kemarin, sengaja kubisikkan padamu kalimat penuh cinta
Kuharap itu mendengung abadi sepanjang masa
Di dalam raga dan jiwamu, tanpa kau menyadarinya
Sebab itu aku&#8230; mengatakan padamu apa adanya
Tadi pagi&#8230; kusambut hariku dengan sinar cerah mentari
Kutitipkan harap pada embun yang membasahi bumi
Agar cinta kita berdua ini kekal abadi, tak terkecuali
Hingga bumi tak lagi bermentari, hingga hitam menjemput raga ini
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kemarin, sengaja kubisikkan padamu kalimat penuh cinta<br />
Kuharap itu mendengung abadi sepanjang masa<br />
Di dalam raga dan jiwamu, tanpa kau menyadarinya<br />
Sebab itu aku&#8230; mengatakan padamu apa adanya</p>
<p>Tadi pagi&#8230; kusambut hariku dengan sinar cerah mentari<br />
Kutitipkan harap pada embun yang membasahi bumi<br />
Agar cinta kita berdua ini kekal abadi, tak terkecuali<br />
Hingga bumi tak lagi bermentari, hingga hitam menjemput raga ini</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.odecya.com/puisi/cinta-abadi.htm/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Engkau</title>
		<link>http://www.odecya.com/puisi/engkau.htm</link>
		<comments>http://www.odecya.com/puisi/engkau.htm#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Sep 2008 15:35:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>KenzT</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<category><![CDATA[Kupilih Engkau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.odecya.com/?p=70</guid>
		<description><![CDATA[Kupilih engkau&#8230;
Saat gelap masih menyusuri hari
Saat langit tak bermentari
Saat kenangan (masih) menghantui
Kupilih engkau&#8230;
Berjalan bersama merangkai cerita
Berlari bersama raih mimpi dunia
Lalui semua suka dan duka
Kupilih engkau&#8230;
Dari sekedar suka hingga cinta bermuara
Sejak bermuka dua hingga apa adanya
Dulu, kini dan insyaAllah s&#8217;lamanya
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kupilih engkau&#8230;<br />
Saat gelap masih menyusuri hari<br />
Saat langit tak bermentari<br />
Saat kenangan (masih) menghantui</p>
<p>Kupilih engkau&#8230;<br />
Berjalan bersama merangkai cerita<br />
Berlari bersama raih mimpi dunia<br />
Lalui semua suka dan duka</p>
<p>Kupilih engkau&#8230;<br />
Dari sekedar suka hingga cinta bermuara<br />
Sejak bermuka dua hingga apa adanya<br />
Dulu, kini dan insyaAllah s&#8217;lamanya</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.odecya.com/puisi/engkau.htm/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Meski Tak Puitis</title>
		<link>http://www.odecya.com/puisi/meski-tak-puitis.htm</link>
		<comments>http://www.odecya.com/puisi/meski-tak-puitis.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Sep 2008 11:19:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>KenzT</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.odecya.com/?p=65</guid>
		<description><![CDATA[Ku tak pernah ingin mempuitiskan semuanya
Melebihi apa yang kurasa, ku tak biasa&#8230;
Ku tak ingin mempesonamu lewat tumpukan kata
Belum tentu kau temukan makna, lalu kau lupa
Lebih baik ku mencintaimu saja, tanpa kata-kata
Melangkahkan kakiku terus di jalan kesetiaan
Tulus mencintaimu tanpa banyak permintaan
(mungkin) Itu lebih indah bagimu&#8230; bagi kita
Meski tak puitis
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ku tak pernah ingin mempuitiskan semuanya<br />
Melebihi apa yang kurasa, ku tak biasa&#8230;<br />
Ku tak ingin mempesonamu lewat tumpukan kata<br />
Belum tentu kau temukan makna, lalu kau lupa</p>
<p>Lebih baik ku mencintaimu saja, tanpa kata-kata<br />
Melangkahkan kakiku terus di jalan kesetiaan<br />
Tulus mencintaimu tanpa banyak permintaan<br />
(mungkin) Itu lebih indah bagimu&#8230; bagi kita</p>
<p>Meski tak puitis</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.odecya.com/puisi/meski-tak-puitis.htm/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sebelum Senja Menutup Mata</title>
		<link>http://www.odecya.com/puisi/sebelum-senja.htm</link>
		<comments>http://www.odecya.com/puisi/sebelum-senja.htm#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jul 2008 10:50:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>KenzT</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.odecya.com/?p=32</guid>
		<description><![CDATA[Semoga niat indah itu terwujud di kehidupan setiap orang sebelum kematian menjemputnya. Puisi ini terinspirasi dari hal tersebut.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Walau sempat tak terucap<br />
Di kedalaman hati ada seutas harap<br />
Rapi tersimpan, menanti saat menjelang</p>
<p>Hingga akhirnya kau mengerti<br />
Kan tetap utuh semua janji hati<br />
Hingga akhirnya kau menjadi istri</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.odecya.com/puisi/sebelum-senja.htm/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Seseorang</title>
		<link>http://www.odecya.com/cerita/tentang-seseorang.htm</link>
		<comments>http://www.odecya.com/cerita/tentang-seseorang.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Jul 2008 07:52:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>KenzT</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cerita]]></category>

		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.odecya.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[Judul lengkap tulisan ini adalah Tentang Seseorang Yang Singgah di Hatiku. Ditulis oleh Cya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dia bukanlah bagian dari hidupku, tidak pernah walau sedetikpun. Mengenalnya pun tidak. Dia hanyalah seseorang yang selalu duduk di tempat duduk yang sama, gerbong yang sama, kereta yang sama. Kereta yang selalu kunaiki setiap pagi bila akan berangkat ke kantor.</p>
<p>Sebelumnya aku tak pernah menyadari dia ada, hingga aku bertatap pandang dengannya dan senyumnya yang menawan tersungging di bibirnya. Hari-hari berikutnya aku semakin sering melihatnya. Dia selalu membawa buku sketsa dan pensil yang sama, yang kian hari kian memendek. Dia selalu terlihat asyik melukis, sambil sesekali membubuhkan remah roti diatas buku sketsanya, dan sesekali melihat sekeliling.</p>
<p>Wajahnya selalu pucat, tapi tertutupi oleh ketampanannya. Sudah lima minggu aku selalu memperhatikannya, melihatnya melukis. Aku ingin mengenalnya, tapi tertahan oleh kodrat wanita yang hanya menunggu. Sedangkan dia juga hanya mencuri pandang, dan bila tiba-tiba kami saling bertatapan, kami tersenyum.</p>
<p>Yang membuatku terkejut adalah sikapnya kemarin. Tak kusangka-sangka dia berjalan ke arahku. Tapi kereta sudah berhenti di stasiun di dekat kantorku. Aku cepat-cepat turun. Dia berusaha mengejarku, tapi stasiun terlalu ramai.</p>
<p>Pagi ini aku bangun agak siang. Aku memaki diriku sendiri. Bagaimana aku bisa bertemu dengannya kalau aku tidak bisa menghargai waktu? Dugaanku benar, dia tidak ada di tempat biasanya dia duduk. Dia pasti naik kereta yang sebelumnya. Hari itu aku tidak bersemangat bekerja.</p>
<p>* * *</p>
<p>Sudah dua minggu aku tidak melihatnya lagi duduk di tempat yang biasanya. Padahal sejak hari aku bangun kesiangan itu, aku selalu berangkat ke stasiun lebih pagi. Mungkin dia tidak menyukai orang yang tidak menghargai waktu, sehingga dia tidak mau menemuiku lagi.</p>
<p>Seperti pagi ini, aku tidak melihatnya duduk di kursinya. Aku berjalan pelan ke kursinya, dan duduk disitu. Belum lama aku duduk, seseorang memegang bahuku. Aku kaget, spontan aku berdiri dan menghadap ke orang yang memegang bahuku. Belum sempat kukeluarkan satu hurufpun, ketika lelaki itu bicara dengan lembut dan sopan.</p>
<p>“Non, Tuan yang biasa duduk di tempat duduk ini, meinitipkan amplop ini untuk Nona. Mari ikut saya.” Seperti tersihir, aku menurut saja tanpa bertanya lagi. Aku keluar kereta itu, mengikuti lelaki tadi. Dia membuka pintu sebuah mobil mewah dan mempersilakan aku masuk. “Saya akan antar Nona sampai tempat kerja.”</p>
<p>“Tuan meminta Nona membuka amplop itu sesampai Nona tiba di tempat kerja.” Selama perjalanan aku hanya diam. Setelah aku turun, lelaki itu berkata lagi, “Silakan dibuka. Akan saya tunggu hingga Nona selesai membacanya. Itu pesan Tuan.” Lalu aku membacanya.</p>
<p><em>Selamat pagi, bidadariku. Maafkan aku, aku takkan bisa lagi melihat wajahmu yang cantik itu, senyummu yang menarik itu, dan matamu yang berbinar itu. Aku takkan bisa menemuimu, lagi, sampai kapanpun. Fisikku yang lemah dan penyakitku yang kian hari kian menggerogoti tubuhku, membuat dokter memvonisku tidak boleh terlalu capai. Bersama surat ini, kuberikan dua buah lukisan hasil karyaku. Yang berlatar awan adalah bidadari yang kulihat di mimpiku, dan yang berlatar jendela gerbong itu kau. Mirip ya? Aku ingin bisa memilikimu, tapi ternyata aku tak bisa. Aku hanya bisa memandangmu, tapi bagiku itu sudah lebih dari cukup. Sekarang aku harus istirahat total di rumah, karena kondisiku yang makin parah. Maafkan aku, bidadariku. Maafkan aku bila aku selalu memperhatikanmu di kereta walau tak kausadari, bila aku ingin mengenalmu lebih jauh, dan bila mencintaimu begitu dalam, sedangkan aku tak mampu lagi walau hanya memandangmu. Terima kasih atas segala yang kau lakukan pada hidupku. Kau telah mengubah segala yang ada di diriku. Aku mencintaimu. Salam, -Bima-</em></p>
<p>Setelah kubaca, kupandang lelaki setengah baya di hadapanku. Dan tanpa aku bertanya dia berkata, “Tuan berpesan agar amplop ini diserahkan setelah Tuan berpulang. Tuan telah berpulang pagi ini, pukul lima lewat dua puluh menit. Akan dimakamkan nanti pukul sepuluh. Bila Nona berkenan, Tuan ingin Nona untuk tidak masuk kerja hari ini dan melayat ke rumah duka.” Dadaku seperti tertimpa beban beribu-ribu ton.</p>
<p>Kudekap surat itu, kupanjatkan doa untuknya. Air mataku menitik, dan aku berbisik lirih, “Aku juga mencintaimu.” Lalu aku masuk mobil itu lagi. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.odecya.com/cerita/tentang-seseorang.htm/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Cinta Itu Anugerah</title>
		<link>http://www.odecya.com/featured/cinta-itu-anugerah.htm</link>
		<comments>http://www.odecya.com/featured/cinta-itu-anugerah.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Jul 2008 07:38:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>KenzT</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.odecya.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[Renungan berjudul Cinta Itu Anugerah ini ditulis oleh Cya pada tahun 2006. Publikasi ulang di odecya.com]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Masya Allah, seandainya aja kita tau betapa indah anugerah yang Allah berikan pada kita. Begitu indah dunia dengan hadirnya cinta. Cinta adalah anugrah terindah yang pernah diterima manusia,dan akan selalu hidup dalam setiap hati manusia. Cinta bukanlah benda yang diberikan begitu saja dan lalu bisa kita buang bila kita tidak menyukainya.</p>
<p>Banyak cara untuk mencintai, banyak jalan menuju kebahagiaan. Allah memberi kemudahan, Allah juga memberi kesulitan dan cobaan. Namun hanya manusia yang melihat dengan mata hati dan berpikir dengan hati dan cinta yang dapat mengubah semua cobaan dan kesulitan menjadi kemudahan.</p>
<p>Cinta tidak pernah menghitung berapa lama kita menjalin suatu hubungan, tetapi bagaimana kita bisa membuatnya berkembang dengan indahnya. Cinta hanyalah sebuah awal dari seluruh hidupmu. Dan inilah awal hidupku.</p>
<p>Cinta tidak akan pernah mengungkap keburukanmu, tidak pernah membuka sisi negatifmu, dan cinta akan menutup semua kejahatanmu. Cinta adalah saat kamu merasakan bagaimana buruknya keadaanmu setelah kamu kehilangan seseorang yang begitu berarti untuk dirimu, seseorang yang telah mengubah dirimu, seseorang yang membuatmu merasa penting dan akan selalu dibutuhkan. Pada saat itulah cinta datang memberimu harapan untuk dapat hidup kembali dan membiarkanmu meraihnya dengan cara apapun. Cinta akan membantumu menjalani kehidupanmu dengan lebih mudah.</p>
<p>Pada dasarnya cinta tidak akan pernah menyakitimu. Hanya saja kau telah menempuh jalan yang salah untuk meraihnya. Cinta adalah seindah-indah perasaan yang pernah dirasakan manusia. Setialah pada cinta, dan cinta akan setia kepadamu. Cinta tidak akan mengkhianati dan meninggalkanmu. Cinta hanya ingin kamu merasakan apa yang terjadi pada hidupmu kalau cinta tak datang menghampiri dan menyapa hatimu.</p>
<p>Cobalah berpikir betapa cinta telah menyelamatkan nyawamu berulang kali. Bagaimana dia datang kembali padamu setelah kau nyaris kehilangan kendali pada dirimu. Bagaimana dia datang untuk memperbaiki hubunganmu yang kacau. Dan bagaimana dia membuatmu merasa bahwa kamu adalah orang yang paling bahagia di dunia ini.</p>
<p>Pikirkanlah bagaimana cinta menghadirkan dirinya dalam kehidupanmu. Terlalu banyak yang telah dilakukan cinta hingga mungkin kamu hanya berpikir, ah itu hanya keberuntunganku saja. Cobalah berterima kasih pada cinta. Banyak cara untuk berterima kasih pada cinta. Yang paling utama adalah, CINTAILAH PEMBERI CINTA PADA HIDUPMU. Bayangkan bila tidak ada cinta di dunia ini!</p>
<p>Cinta adalah saat kamu merasa bahagia ketika kamu melihat orang yang kamu cintai bahagia, saat kamu merasa sedih ketika dia sedih, dan menjalani saat-saat sedih dan bahagia bersama-sama. Cinta adalah sumber kekuatan. Cinta adalah saat kamu harus jujur pada dirimu sendiri dan orang yang kamu cintai. Cinta adalah saat kamu mendengar, berbicara dan menghargai kebenaran dan tidak pernah menolaknya. Cinta adalah sumber kebenaran. Cinta adalah saat kamu saling mengerti secara keseluruhan bahwa kamu merasa seperti kamu adalah bagian dari orang lain. Cinta adalah sumber kebersamaan. Cinta adalah kebebasan untuk mengungkapkan segala keinginanmu saat kamu membaginya dengan orang yang kamu cintai. Cinta adalah ketika kamu dan orang yang kamu cintai mengerti perkembangan masing-masing dan bersama-sama mengembangkan cinta yang kalian punyai. Cinta sumber segala sukses. Cinta adalah kebahagiaan saat merencanakan segala sesuatu yang akan terjadi pada hidup kalian berdua dan melakukannya bersama. Cinta adalah pangkal masa depan.</p>
<p>Cinta adalah dahsyatnya badai dan tenangnya pelangi. Cinta adalah pangkal dari semua perasaanmu. Cinta adalah saling memberi dan menerima kehidupan masing-masing, dan dengan sabar mengerti keinginan dan kebutuhan masing-masing. Cinta adalah berbagi segalanya. Cinta adalah saat kamu mengetahui bahwa orang yang kamu cintai akan selalu berada disampingmu apapun yang akan terjadi. Cinta adalah saat kamu saling merindukan dengan orang yang kamu cintai pada saat dia tidak ada disampingmu, dan mengetahui bahwa dia akan selalu ada di hatimu. Cinta adalah sumber dari semua perasaan amanmu. Cinta adalah sumber segala kehidupanmu!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.odecya.com/featured/cinta-itu-anugerah.htm/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sedikit Renungan</title>
		<link>http://www.odecya.com/featured/sedikit-renungan.htm</link>
		<comments>http://www.odecya.com/featured/sedikit-renungan.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Jul 2008 07:36:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>KenzT</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.odecya.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[21 Hal Untuk Direnungkan oleh siapa aja yang sedang menikmati indahnya cinta. Ditulis oleh Cya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<ol>
<li>Berikan mereka lebih dari yang mereka harapkan dan lakukan itu dengan senang hati.</li>
<li>Menikahlah dengan pria/wanita yang anda cintai. Ketika anda beranjak tua, keahlian percakapan mereka akan mejadi sepenting seperti hal lain.</li>
<li>Jangan percaya dengan apa yang anda dengar, Habiskan apa anda miliki atau tidur semau anda.</li>
<li>Ketika anda ucapkan, “Aku mencintaimu”, Seriuslah.</li>
<li>Ketika anda ucapkan, “Maafkan saya”, pandang mata orang itu.</li>
<li>Tunanganlah sedikitnya enam bulan sebelum anda menikah.</li>
<li>Percayalah pada cinta pandangan pertama.</li>
<li>Jangan tertawakan/remehkan impian orang. Orang yang tidak punya impian adalah miskin.</li>
<li>Cintailah dengan mendalam dan bergairah. Anda mungkin akan terluka, tapi ini satu-satunya cara untuk menjalani hidup sebenarnya.</li>
<li>Saat terjadi percekcokan/pertengkaran, Janganlah menyebut nama.</li>
<li>Jangan menilai orang karena dengan siapa mereka berteman.</li>
<li>Bicaralah pelan tapi berpikirlah cepat.</li>
<li>Ketika seseorang mengajukan pertanyaan, yang anda sendiri tidak ingin menjawabnya, tersenyumlah dan tanya, “Kenapa anda ingin tahu?”</li>
<li>Ingat bahwa cinta dan kesuksesan besar membutuhkan pengorbanan.</li>
<li>Ucapkan “berkah bagimu” saat anda mendengar orang bersin.</li>
<li>Ketika anda kalah, jangan lupakan pelajaran yang didapat.</li>
<li>Hargai diri sendiri; Hargai orang lain; Bertanggung jawab pada semua yang anda lakukan.</li>
<li>Jangan biarkan pertengkaran kecil merusak persahabatan yang besar.</li>
<li>Ketika anda sadar telah berbuat kesalahan, Ambil langkah segera untuk memperbaikinya.</li>
<li>Tersenyumlah saat menerima telepon. Penelpon akan mendengarnya dari suara anda.</li>
<li>Habiskan waktu sendirian.</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.odecya.com/featured/sedikit-renungan.htm/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Saat Ini</title>
		<link>http://www.odecya.com/puisi/saat-ini.htm</link>
		<comments>http://www.odecya.com/puisi/saat-ini.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Jul 2008 07:34:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>KenzT</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.odecya.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Puisi ini ditulis oleh Cya pada tanggal 3 Desember 2006 di sebuah blog lama yang kini dipublikasikan ulang di odecya.com]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku hanya ingin memberimu</p>
<p>Ketulusan tanpa batas</p>
<p>Pengabdian tanpa lelah</p>
<p>Pengorbanan tanpa henti</p>
<p>Kerelaan tanpa putus</p>
<p>Cinta tanpa akhir</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.odecya.com/puisi/saat-ini.htm/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Terima Kasih Cinta</title>
		<link>http://www.odecya.com/lirik/terima-kasih-cinta.htm</link>
		<comments>http://www.odecya.com/lirik/terima-kasih-cinta.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Jul 2008 07:31:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>KenzT</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Lirik]]></category>

		<category><![CDATA[lirik lagu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.odecya.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[Lirik lagu Afgan - Terima Kasih Cinta ini merupakan salah satu lagu yang pas banget atas apa yang udah terjadi diantara kisah Resya]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tersadar, didalam sepi ku,<br />
setelah jauh melangkah.<br />
[#:]<br />
Cahaya kasih mu, menuntun ku,<br />
kembali dalam, dekap tangan mu.<br />
[Reff:]<br />
Terima kasih cinta,<br />
untuk segalanya,<br />
kau berikan lagi,<br />
kesempatan itu.<br />
Tak akan terulang lagi,<br />
semua…<br />
kesalahan ku,<br />
yang pernah menyakiti mu.<br />
Tanpa mu, tiada berarti,<br />
tak mampu lagi berdiri.<br />
[#] ~~ [Reff]<br />
[Interlude]<br />
[Reff]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.odecya.com/lirik/terima-kasih-cinta.htm/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Odecya</title>
		<link>http://www.odecya.com/puisi/odecya.htm</link>
		<comments>http://www.odecya.com/puisi/odecya.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Jul 2008 05:27:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>KenzT</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://odecya.com/?p=1</guid>
		<description><![CDATA[Puisi berjudul Odecya ini pertama kali dipublikasikan di www.anggrekbiru.com sebelum akhirnya ditampilkan juga di Odecya.Com. odecya.com terinspirasi oleh puisi ini.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku memang tidak pernah memberitahukanmu<br />
Sedang kurajut lagi hatiku, dengan benang cinta darimu<br />
Aku memang tidak ingin engkau tahu<br />
Kelak ku ingin berikanmu satu hati ini utuh</p>
<p>Namun jika kini engkau memutuskan untuk pergi<br />
Sebab sudah cukup lelah engkau menanti<br />
Ceritakan saja, segenap jiwaku akan mengerti<br />
Ku yakin takkan mudah untuk berpaling</p>
<p>Hampir 2 tahun lamanya aku mengabaikanmu<br />
Terbenam dalam kubangan kenangan masa lalu<br />
Hampir 2 tahun lamanya kau ada disisiku<br />
Terdiam, mengerti, menunggu aku mengucap rindu</p>
<p>Untuk semua pengorbanan dan kesabaran<br />
Atas kekhilafan dan lemahnya perasaan<br />
Ku terima jika kini kau coba membuka baru lembaran<br />
Belajar menerima, dan menyusun lagi harapan</p>
<p>Pergilah…berjalanlah…pelajarilah…<br />
Lupakan saja aku, jangan menjadi sepertiku<br />
Usah terbenam masa lalu saat denganku<br />
Berikan untuknya segenap rasa kau mampu</p>
<p>Jangan buat segalanya terlambat<br />
Jangan buat cintamu merasa penat<br />
Jangan buat ia membenciku karna rasamu<br />
Jangan buat aku menyakitinya hanya karnamu</p>
<p>Cinta tidak egois Cya…<br />
Sebab aku pernah, maka aku tahu<br />
Belajarlah utuh menerima adanya<br />
Perlahan berkurang s’mua artiku</p>
<p>Usah berpikir aku Cya…<br />
Sebab aku sudah, berbuat satu salah<br />
Aku tahu engkau pasti bisa<br />
Satu langkah ini harus membuat baik hidupmu</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.odecya.com/puisi/odecya.htm/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
