Dia bukanlah bagian dari hidupku, tidak pernah walau sedetikpun. Mengenalnya pun tidak. Dia hanyalah seseorang yang selalu duduk di tempat duduk yang sama, gerbong yang sama, kereta yang sama. Kereta yang selalu kunaiki setiap pagi bila akan berangkat ke kantor.
Sebelumnya aku tak pernah menyadari dia ada, hingga aku bertatap pandang dengannya dan senyumnya yang menawan tersungging di bibirnya. Hari-hari berikutnya aku semakin sering melihatnya. Dia selalu membawa buku sketsa dan pensil yang sama, yang kian hari kian memendek. Dia selalu terlihat asyik melukis, sambil sesekali membubuhkan remah roti diatas buku sketsanya, dan sesekali melihat sekeliling.
Wajahnya selalu pucat, tapi tertutupi oleh ketampanannya. Sudah lima minggu aku selalu memperhatikannya, melihatnya melukis. Aku ingin mengenalnya, tapi tertahan oleh kodrat wanita yang hanya menunggu. Sedangkan dia juga hanya mencuri pandang, dan bila tiba-tiba kami saling bertatapan, kami tersenyum.
Yang membuatku terkejut adalah sikapnya kemarin. Tak kusangka-sangka dia berjalan ke arahku. Tapi kereta sudah berhenti di stasiun di dekat kantorku. Aku cepat-cepat turun. Dia berusaha mengejarku, tapi stasiun terlalu ramai.
Pagi ini aku bangun agak siang. Aku memaki diriku sendiri. Bagaimana aku bisa bertemu dengannya kalau aku tidak bisa menghargai waktu? Dugaanku benar, dia tidak ada di tempat biasanya dia duduk. Dia pasti naik kereta yang sebelumnya. Hari itu aku tidak bersemangat bekerja.
* * *
Sudah dua minggu aku tidak melihatnya lagi duduk di tempat yang biasanya. Padahal sejak hari aku bangun kesiangan itu, aku selalu berangkat ke stasiun lebih pagi. Mungkin dia tidak menyukai orang yang tidak menghargai waktu, sehingga dia tidak mau menemuiku lagi.
Seperti pagi ini, aku tidak melihatnya duduk di kursinya. Aku berjalan pelan ke kursinya, dan duduk disitu. Belum lama aku duduk, seseorang memegang bahuku. Aku kaget, spontan aku berdiri dan menghadap ke orang yang memegang bahuku. Belum sempat kukeluarkan satu hurufpun, ketika lelaki itu bicara dengan lembut dan sopan.
“Non, Tuan yang biasa duduk di tempat duduk ini, meinitipkan amplop ini untuk Nona. Mari ikut saya.” Seperti tersihir, aku menurut saja tanpa bertanya lagi. Aku keluar kereta itu, mengikuti lelaki tadi. Dia membuka pintu sebuah mobil mewah dan mempersilakan aku masuk. “Saya akan antar Nona sampai tempat kerja.”
“Tuan meminta Nona membuka amplop itu sesampai Nona tiba di tempat kerja.” Selama perjalanan aku hanya diam. Setelah aku turun, lelaki itu berkata lagi, “Silakan dibuka. Akan saya tunggu hingga Nona selesai membacanya. Itu pesan Tuan.” Lalu aku membacanya.
Selamat pagi, bidadariku. Maafkan aku, aku takkan bisa lagi melihat wajahmu yang cantik itu, senyummu yang menarik itu, dan matamu yang berbinar itu. Aku takkan bisa menemuimu, lagi, sampai kapanpun. Fisikku yang lemah dan penyakitku yang kian hari kian menggerogoti tubuhku, membuat dokter memvonisku tidak boleh terlalu capai. Bersama surat ini, kuberikan dua buah lukisan hasil karyaku. Yang berlatar awan adalah bidadari yang kulihat di mimpiku, dan yang berlatar jendela gerbong itu kau. Mirip ya? Aku ingin bisa memilikimu, tapi ternyata aku tak bisa. Aku hanya bisa memandangmu, tapi bagiku itu sudah lebih dari cukup. Sekarang aku harus istirahat total di rumah, karena kondisiku yang makin parah. Maafkan aku, bidadariku. Maafkan aku bila aku selalu memperhatikanmu di kereta walau tak kausadari, bila aku ingin mengenalmu lebih jauh, dan bila mencintaimu begitu dalam, sedangkan aku tak mampu lagi walau hanya memandangmu. Terima kasih atas segala yang kau lakukan pada hidupku. Kau telah mengubah segala yang ada di diriku. Aku mencintaimu. Salam, -Bima-
Setelah kubaca, kupandang lelaki setengah baya di hadapanku. Dan tanpa aku bertanya dia berkata, “Tuan berpesan agar amplop ini diserahkan setelah Tuan berpulang. Tuan telah berpulang pagi ini, pukul lima lewat dua puluh menit. Akan dimakamkan nanti pukul sepuluh. Bila Nona berkenan, Tuan ingin Nona untuk tidak masuk kerja hari ini dan melayat ke rumah duka.” Dadaku seperti tertimpa beban beribu-ribu ton.
Kudekap surat itu, kupanjatkan doa untuknya. Air mataku menitik, dan aku berbisik lirih, “Aku juga mencintaimu.” Lalu aku masuk mobil itu lagi. ***






December 19th, 2009 at 9:48 pm
wao.. keren banget.! sempat terbawa alur cerita-nya.!
[Reply]
KenzT Reply:
February 3rd, 2010 at 3:38 am
Sama, kujuga sempat hanyut saat baca tuh cerita…. Yang nulis Cya….
[Reply]
December 1st, 2009 at 8:03 pm
haru..bener” terharu aku,,,
emm,,,sedih juga saat sadar lw kita “*****” ma dia
tapi itu semua sudah terlambat,,,
bisa karna dia ud meninggal kayak cerpen kau..
atau udah berpaling ke yang lain…><,,,
[Reply]
November 17th, 2009 at 7:25 pm
sumpah keren bgt cerita nya..seandainya gw sutradara bakalan gw jd film ni cerita…pasti liat endingnya penonton mewex abizzzz keren ..keren
[Reply]
KenzT Reply:
February 3rd, 2010 at 3:39 am
Thanx buat apresiasinya yah… semoga dengan pujian positif ini, Cya bisa balik lagi nulis cerpen…..
[Reply]
September 27th, 2009 at 12:05 am
berbicara tetang problema cinta memang sangat menarik untuk dikaji dan ditelaah apalagi itu temanya cinta remaja tapi ingat cinta dunia jangan samapai mengalahkan cinta kita kepada yang maha kuasa
[Reply]
September 16th, 2009 at 10:55 am
SubhannaAllah…
Serita yang sangat menyenth. Terlepas itu cerita nyata ataupun nggak, tapi pengarangnya TOP deh udah lahirkan cerita seperti ini.
Cinta memang tak selalu harus memiliki. Tapi aku yakin Cinta akan selalu tetap hidup didalam cinta yang sejati. Hati yang sesalu ikhlas mencintai walaupun harus rela untuk tak memilikinya.
[Reply]
purnama Ade Reply:
January 29th, 2010 at 2:42 am
benar ga benar tu cerita yang pasti ku sedih baget terlalu menyentuh hati,
ga kebayang betapa sakit nya hati ni kalo itu kejadian di kehidupan ku,
memang segala sesuatu yang ada di dunia ni pasti akan pergi jauh meningal kan kita,
meningal kan atau pun di tingal kan,…..
pertemuan perpisahan,
canda tawa selalu mengundang air mata.
[Reply]
September 6th, 2009 at 10:14 am
wahhhhhhhhhhhhhh cerita kamu bgus bangat aku suka cerita kmu m’harukan bgt .emang yach kta cinta itu sunggu indah bgt dan sangat menyenangkan ,namu kadang cinta itu sangat m’nyakitkan membuat hati kita ini menjadi hampah,mati rasa tetesan air mata pun menetes m’basahi wajah.:):):).
[Reply]
August 20th, 2009 at 9:11 am
menyentuh bangat
ceritanya,
[Reply]
August 17th, 2009 at 8:23 pm
duh.. mang yah.. yg buat cerita… bagus seh… tp ngga tau…koq gw bacanya kaya ngga real banget.. bahkan terkesan di paksain… gimana yah.. tp ini mang kaya cerpen seh… jadi mang harus pendek aja… but it’s nice, realy…
[Reply]
August 6th, 2009 at 2:46 pm
[Reply]
March 4th, 2009 at 1:31 pm
mantap abis…. seakan bumi pun ikut menangis
[Reply]
March 1st, 2009 at 1:23 pm
manyep bgd yea…sayang,aku telat…
[Reply]
January 23rd, 2009 at 3:26 pm
apa kita harus memiliki cinta???
[Reply]
January 23rd, 2009 at 3:24 pm
cinta itu sangat indah,,,,
kita harus memiliki nya,,,,
biar tw bahwa cinta adalah nikmat dunia,,,
[Reply]
January 23rd, 2009 at 3:18 pm
wahhhhh,,,,
crita nya bagus2
emank kata cinta itu sungguh indah bgd,,,
sampai2 para lelaki luluh hatinya karena cinta,,,
cinta itu sungguh indah dan sangat menyenangkan,namun terkadang cinta menyakit kan,membuat hati ini menjadi mati rasa tetesan air mata pun jatuhi wajah,,
cinta adalah hiasan hidup dunia kita,,,,
[Reply]
January 23rd, 2009 at 3:16 pm
wahhhhhhhhhh,,,,,]
crita kmu bagus bgd,,,
emank kata cinta itu sungguh indah bgd,,,
sampai2 para lelaki luluh hatinya karena cinta,,,
cinta itu sungguh indah dan sangat menyenangkan,namun terkadang cinta menyakit kan,membuat hati ini menjadi mati rasa tetesan air mata pun jatuhi wajah,,
cinta adalah hiasan hidup dunia kita,,,,
[Reply]
January 4th, 2009 at 1:52 pm
ehm ..
emg yg nama’y cinta g slLu hrs memiliki,
[Reply]
December 30th, 2008 at 11:02 am
aku suka banget puisi ini, mirip ma kisah aku tapi dia blm meninggal. memang bnr kadang apa yang kita mimpikan memang gak selalu bisa jadi kenyataan. Salut buat penulis. Terus berkarya ya…
[Reply]
December 13th, 2008 at 11:10 pm
keren…!!!
[Reply]
November 8th, 2008 at 9:02 pm
Hik…Hik..four jadi terharu..Apakah akan ada yang mencintaiku segitu besarnya?
[Reply]
September 16th, 2008 at 3:18 pm
Cinta Memang Tak Selamanya Harus Berbalas Tapi Cinta Akan Hidup Abadi Selamanya Dihati Yang Memiliki Cinta Itu.
[Reply]
September 16th, 2008 at 1:59 pm
cha keren bgt tulisannya. lain kali bikin tentang cewe yg selalu gagal mendapatkan cintanya karna cintanya harus pergi setiap dia mulai berharap lebih. gw suka sama seseorang tp dia mau nerusin skulnya diluar dan dia baru bilang beberapa hari sebelum dia resign.thanxxxx
[Reply]
July 28th, 2008 at 3:45 pm
thnx..
omigot.. makasih yaaaaaaa,, *terharu*
tar deh klo ada inspirasi, cya bikin lagi.. Insya Allah yaa,,
semua murni fiksi kok..
see ya..
[Reply]
July 25th, 2008 at 11:58 am
sumpah!!! kerennnn bgt…. so sad…
[Reply]
July 24th, 2008 at 7:33 am
wow… cya that was great. when read on midle i just think that i cant wait what the happen at the end.
teruslah berkarya.
[Reply]
July 22nd, 2008 at 1:53 pm
Hi..cya, ceritanya bagus banget sangat menyentuh hati. Ini cerita fiktif or base on true story? Kapan-kapan kamu bisa tulis cerita yang mengenai kekasihnya dikhianatin setelah 7 tahun bersama dan ditinggalkan menjelang hari pernikahannya tanpa suatu alasan yang jelas. Thanks sebelumnya ya…(”o”)
[Reply]
ifan Reply:
August 17th, 2009 at 8:29 pm
waduh… kesannya pengalaman pribadi neh… but it’s ok, tapi mungkin ceritanya akan panjang banget… bagus dibuat novel aja kale..
[Reply]